Cerpen Pramoedya Ananta Toer
Almanak Seni 1957
Sekarang tiba gilirannya: dia juga mau pergi ke Jakarta.
Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin jadi wargakota Jakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan cita itu akan timbul juga. Engkau di pedalaman terlampau banyak memandang ke Jakarta. Engkau bangunkan Jakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan yang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanya. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.
Ah, kawan, biarlah aku ceritakan kau tentang Jakarta kita.
Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinya aku injak tanah ibukota ini, stasiun Gambir dikepung oleh del¬man. Kini delman ini telah hilang dari pemandangan kota —hanya tujuhbelas tahun kemudian! Becak yang menggantikannya. Kuda-kuda diungsikan ke pinggiran kota. Dan kemudian: manusia-manusia menjadi kuda dan sopirnya sekali: begini tidak ada ongkos pem¬beli rumput! Inilah Jakarta. Demi uang manusia se¬dia jadi kuda. Tentu saja kotamu punya becak juga tetapi sudah jadi adat daerah meniru kebobrokan ibu¬kota.
Bukan salah manusia ini, kawan. Seperti engkau juga, orang-orang ini mengumpulkan tekat segumpil demi segumpil¬ perawan-perawan sawah, ladang dan pegunungan, buruh-buruh tani, petani-petani sendiri yang bidang tanahnya telah didih di dalam perasaannya, warga-warga dusun yang dibuat porak poranda oleh gerombolan, pelajar-pelajar yang hendak meneruskan pelajaran, juga engkau sendiri —dan dengan penuh kepercayaan akan keindahan nasib baik di ibukota.
Kemudian bila mereka sampai di Jakarta kita ini, perawan-perawan pedalaman yang datang kemari sekedar cari makan, dia dapat makan, lupa cari makan, dia kepingin kesenangan, dan tiap malam berderet di¬ depan gedung tempat kerjanya masing-masing. Pria tidak semudah itu mendapat pekerjaan, dan akhirnya menjadi kuda. Beberapa bulan kemudian paha para pria ini menjadi begitu penuh sesak dengan otot yang ter¬lampau banyak dipaksa kerja. Tiap minggu mereka menelan telur ayam mentah. Dan jalan raya memberinya kemerdekaan penuh. Bila datang bahaya ia lepas beca berjalan sendirian, dan ia melompat ke kaki lima. Juga tanggung jawab delman hilang di tangan kuda-kuda ini. Beberapa tahun kemudian ia ‘ngejengkang’ di balenya karena jantungnya menjadi besar, desakan darahnya meninggi: ia invalid —puluhan! ratusan ribu! kembali ke kampung sebagai sampah. Bila ada kekayaan, adalah kekayaan membual tentang kepele¬siran. Tetapi untuk selama-lamanya ia telah mati, su¬dah lama mati. Jumlah kurban ini banyak daripada kurban revolusi bakalnya.
Jadi engkaupun ingin jadi warga Jakarta!
Jadi engkaupun ingin jadi sebagian kegalauan ini.
Dari rumah masing-masing orang bertekad mencari uang di Jakarta. Juga orang-orang daerah yang kaya mengandung maksud: ke Jakarta —hamburkan uang¬nya. Dan juga bajingan-bajingan daerah: ke Ja¬karta —menangguk duit. Demi duit ini pula Jakarta bangun. Sebenarnya sejak masuknya kompeni ke Ja¬karta, Jakarta hingga kini belum juga merupakan kota, hanya kelompokan besar dusun. Hingga sekarang. Tidak ada tumbuh kebudayaan kota yang spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimport dari luar negeri: dansa, bioskop, pelesiran, minuman keras dan agama, berbagai macam agama.
Aku lupa, bahwa kau datang hendak kemari untuk belajar. Tetapi barangkali patut pula kau jadikan ke¬nangan, pusat belajar daerah kita adalah Jakarta. Tetapi sungguh aku sesalkan, bahwa Jakarta kita bu¬kanlah pusat belajar yang mampu menyebabkan para mahasiswa ini menjadi perspektif kesarjanaan Indonesia di kemudian hari. Sisa-sisa intelektualisme karena gebukan balatentara Dai Nippon kini telah bangkit kembali dengan hebatnya. Titel akademi yang diperoleh tiap tahun beku di kantor-kantor, dan daerah¬mu tetap gersang menginginkan bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung-gantung jauh di ang¬kasa biru. Semua orang asing, dengan warna politiknya masing-masing, yang memberi kauremah-remah dari¬pada kekayaan kita terbaik yang diisapnya.
Aku tahu, engkau orang daerah, orang pedalaman mendewakan pemimpin-pemimpinmu, tetapi aku lebih dekat pada kenyataan ini. Aku tahu engkau berteriak¬-teriak tentang perekonomian nasional, tetapi basis ke¬hidupan yang didasarkan atas perdagangan eksport, bukan saja typis negara agraria, juga negara kolonial. Sepanjang sejarah negara-negara petani menjadi negeri jajahan, dan tetap menjadi negeri jajahan.
Dan bukankah petani-petani daerahmu masih tetap hamba-hamba di jaman Majapahit, Sriwijaya atau Mataram? Siang kepunyaan raja, malam kepunyaan durjana! Dan raja di jaman merdeka kita ini ada¬lah naik-turunnya harga hasil pertaniannya sendiri. Se¬dang durjananta tetap juga durjana Majapahit, Sriwijaya dan Mataram yang dahulu: perampok, pen¬curi, gerombolan, pembunuh, pembegal.
Jadi beginilah, kawan. Jakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Jakarta. Tapi Jakarta sendiri hanya kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan yang masak tidak punya. Anak-anak men¬jadi terlampau cepat masak, karena bayi-bayi, kanak¬-kanak dan orangtuanya digiring ke dalam ruangan¬-ruangan yang teramat sempit sehingga tiap waktu me¬reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada yang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men¬jadi hilang, dan segi-segi yang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini menjadi tum¬pul. Agama telah menjadi gaya kehidupan, bukan perbentengan rohani yang terakhir. Aku ceritai kau, kemarin anakku yang paling amat besar enam umurnya, bercerita: Orang-orang ini dibuat Tuhan. Tapi apakah ranjang ini dibuat oleh-Nya juga? Ia pandangi aku. Waktu kutanyakan kepadanya bagaimana warna Tuhan: hitam ataukah merah? Ia menjawab Putih! Ia pilih warna yang tidak mengandung interpretasi, tidak di¬warnai oleh pretensi. Sebaliknya kehidupan Jakarta ini—dan barangkali patut benar ini kau ketahui: penuh-sesak dengan interpretasi dan pretensi ini. Di¬ segala lapangan! Lebih menjengkelkan daripada itu: tiap-tiap orang mau mendesakkan kepunyaannya masing-¬masing kepada orang lain, kepada lingkungannya. Sungguh-sungguh tiada tertanggungkan. Barangkali kau pernah pelajari sejarah kemerdekaan berpikir. Bila demikian halnya kau akan dikutuki celaka.
Tetapi jangan kaukira, bahwa kegalauan ini ber¬arti mutlak. Barangkali adanya kegalauan ini hanyalah suatu salah harap daripadaku sebagai perseorangan. Aku seorang pengarang, dan pengarang di masa kita ini, terutama di ibukota kita, adalah semacam kerbau yang salah mendarat di tanah tandus. Setidak-tidaknya kega¬lauan ini memberi rahmat juga bagi golongan-golongan terten¬tu, terutama bagi para pedagang nasional, yakni yang berjualbelikan kenasionalan tanah-airnya dan dirinya. Mungkin engkau tidak setuju. Tetapi barangkali lebih baik demikian. Sungguh lebih menyenangkan bagimu bila masih punya pegangan pada kepercayaan akan kebaikan segala yang dimiliki oleh tanah-airmu dalam segala segi dan variasinya. Kami golongan pengarang, biasanya tiada lain daripada tenaga penentang, golongan opposisi yang tidak resmi. Resmi: pengarang. Tidak resmi: opposisi periuk terbaik! Dengan sendi¬dirinya saja begitu, karena kami bicara dengan selu¬ruh ada kami, kami hanya punya satu moral. Itu pula sebabnya, bila kami tewas, tewas secara keseluruhan. Bukannya tewas di moral yang pertama, tetapi menjadi tambun di moral yang keempat! menjadi melengkung di moral yang ketiga!
Aku kira terlampau jauh lantaranku ini. Padamu aku mau bicara tentang Jakarta kita.
Sekali waktu di suatu peristiwa, Omar pernah bicara dengan sombongnya: Bakar semua khazanah, karena segalanya telah termaktub di dalam Qur’an! Permun¬culan yang grandius tapi tak punya kontur-kontur kenyataan ini adalah gambaran kejiwaan Jakarta: rencana-rencana besar, galangan-galangan terbesar di Asia Tenggara, tugu terbesar di Asia, kemerosotan mo¬ral terbesar! segala terbesar. Tapi tak ada sekrup, tak ada mur, tak ada ada drat, tak ada nipple, tak ada naaf, tak ada inden dan ring pada permesinan semua ini.
Sekali waktu di suatu peristiwa, Paskal mencatat di¬ dalam bukunya: Manusia hanya sebatang rumput, teta¬pi rumput yang berakal budi. Dan rumput ini adalah golongan yang mempunjai kesadaran tanpa kekuasaan, terinjak dan termakan. Yang lahir, kering dan mati dengan diam-diam. Namun menjadi permulaan dari pada kehidupan, seperti yang disaksikan oleh Schweit¬zer, serta risalah Kan Ying Pien.
Berbagai macam angkatan campur-baur menjadi satu, seperti sambal yang menerbitkan satu rasa, tetapi dengan teropong masih jelas nampak perpisahan an¬tara bagian satu dengan jang lain. Namun pen-tipe-an semacam yang tegakkan oleh Remarque tidak memper¬lihatkan diri.
Barangkali engkau keberatan dengan kata-kataku itu. Tetapi memang demikian. Cobalah ikuti tulisan-tulisan angkatan demi angkatan. Angkatan yang muda menca¬ci yang tua, yang muda dicaci oleh yang lebih muda. Tetapi, kata Ramadhan KH yang pernah aku dengar, angkatan muda ini bila diberi kesempatan, dia kehilangan segala proporsi dan lemih menjadi badut lagi. Artinya badut di lingkungan badut. Tokoh-tokoh pemi¬kiran mengetengahkan Wulan Purnomosidhi dan Ada¬ tidaknya Tuhan, di dalam kekacauan sosiologis, ekono¬mis dan politis, kultural dan intertual! Apakah kita mesti ikut pukul kaleng untuk membuat segala ini men¬jadi bertambah ramai? Sedang anak-anak murid ini telah demikian giat dengan membanggakan pengeta¬huannya tentang para cabul dan ‘rakjat kecil’ plus sa¬duran Toto Sudarto Bahtiar Cabul Terhormat karang¬an Sartre? Plus Margaretta Gouthier saduran Hamka dari Alexander Dumas Jr. Hamka? ya Hamka.
Akhirnya, seperti kata A.S. Dharta, orang-orang da¬tang dan berkumpul ke Jakarta, menjadi warga Ja¬karta, untuk mempercepatkan keruntuhan kelompokan besar dusun ini. Tambah banyak yang datang tambah cepat lagi.
Selagi aku belum jadi penduduk Jakarta, dambaanku mungkin seperti kau punya. Impian yang indah, bayangan pada pembangunan hari depan. Diri masih pe¬nuh diperlengkapi kekuatan, kemampuan dan keperca¬yaan diri. Barangkali bagimu segala itu lebih keras lagi. Karena di daerah bertiup angin: orang takkan jadi warganegara yang 100% sebelum melihat Jakarta de¬ngan mata kepala sendiri.
Barangkali engkau akan bertanya kepadaku, mengapa tak juga menyingkirkan diri dari Jakarta! Ah, kau. Golongan kami adalah semacam kerbau yang mendarat di tanah tandus. Golongan kami reaksioner di lapangan penghidupan. Sekalipun tandusnya penghidupan golong¬an kami, justru Jakartalah yang bisa memberi, seka¬lipun hanya remah-remah para pedagang nasional, atau petani pasar minggu. Tambah lama nasi yang sepiring harus dibagi dengan empat-lima anak-anaknya. Dan anak-anak ini akan mengalami masa kehilangan masa kanak-kanak, masa kanak-kanaknya sendiri. Kanak-kanak Jakarta yang tak punya lapangan bergerak, tak punya lapangan bermain, tak punya daerah perkem¬bangan kejiwaan, menjurus dari gang dan got, membunuh tiap marga-satwa yang tertangkap oleh matanya. Katak dan ketam dan belut dan burung mengalami lik¬uidasi, di Jakarta! Tetapi nyamuk merajalela, dan cicak dan sampah. Juga mereka ini hidup di alam ketaksenangan. Taman-taman hanya di daerah Menteng dan perkampungan baru. Engkau tahu, jadi orang apa ka¬nak-kanak semacam ini jadinya di kemudian hari.
Engkau tahu, ada pernah dibisikkan kepadaku: da¬erah yang punya taman adalah lahir dan berkembang karena telah menghisap darah daerah yang tak punya taman. Tentu saja bisikan ini konsekuensi daripada prinsip perjuangan kelas. Barangkali engkau tak setu¬ju, karena ini membawa-bawa politik atau pergeseran kemasyarakatan yang berwarna politik atau politik ekonomi. Mungkin juga hanya suatu kedengkian yang tak sehat. Tapi apakah yang dapat kauharapkan dari suatu masyarakat dimana sebahagian besar warganya hidup dalam suasana tak senang, tak ada pegangan, tak ada kepercayaan pada hari depan! Sedang para pedagang nasional juga tak punya hari depan, karena kemanisan yang di perolehnya hari kini diisapnya habis hari kini pula, untuk dirinya sendiri tentu, atas nama kenaikan harga tentu, sehingga mereka menjadi para turis di daerah kehidupannya sendiri.
Segala yang buruk berkembang-biak dengan mantiknya di Jakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runcing¬nya dan melukai orang yang tersinggung olehnya. Tetapi wargakota yang sebelum proklamasi bersikap apatis ¬— apatisnya seorang hamba — kini kulihat apatisnya orang merdeka dengan jiwa hambanya. Bukan penghinaan, sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa sebagai penghinaan.
Di dalam kehidupan yang tidak menyenangkan apakah yang tak terasa sebagai penghi¬naan! Dan tiap titik yang menyenangkan dianggap pujian, atau setidak-tidaknya secara subjektif: penga¬kuan dari pihak luaran akan kesamaan martabat dengan orang atau bangsa yang memang telah merdeka dan tahu mempergunakan kemerdekaannya. Barangkali engkau menghendaki ketegasan ucapan ini. Baiklah aku tegaskan kepadamu: memang wargakota belum lagi 25% bertindak sebagai bangsa merdeka. Anarki kecil¬-kecilan, sebagaimana mereka dahulu dilahirkan dalam lingkungan yang serba kecil-kecil pula: buang sam¬pah digot! banjir tiap hujan akibatnya; pendudukan tanah orang lain yang disadari benar bukan tanahnya sendiri menurut segala hukum yang ada, sekalipun sah menurut hukum yang dikarang-karangnya sendiri: ketimpangan hak tanah adalah ketimpangan penghidupan, kehidupan dan kesejahteraan sosial. Mengapa? Kare¬na besok atau lusa tiap orang dapat didorong keluar dari rumah dan pekarangannya sendiri-sendiri. Kejo¬rokan dan kelalaian yang dengan langsung menuju ke pelanggaran ketertiban bersama. Dan jalan-jalan raya serta segala macam jalanan umum menjadi me¬dan permainan Jibril mencari mangsa. Juga ini akibat hati orang tidak senang. Bawah sadarnya bilang: dia tak dilindungi hukum — dia, baik yang melanggar maupun yang dilanggar.
Nah demikianlah Jakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.
Barangkali engkau mengagumi kaum cerdik-pandai yang sering diagungkan namanya disurat-suratkabar. Hanya sedikit di antara mereka itu yang benar-benar bekerja produktif-kreatif. Yang lain-lain terpaksa mem¬populerkan diri agar tak tumbang di medan penghidup¬an! Apakah yang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini yang punya prestasi interna¬sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pancasila telah melahirkan suatu kenyataan di mana engkau sadar di hati kecilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari yang tak terpilih, diucapkan limabelas kali kata pancasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sejalan dengan tradisi penjajahan yang selalu dideritakan oleh rakyat kita, maka nampak pula garis-garis yang tegas dalam masa penjajahan priayi¬-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sejarah ke¬gagalan revolusi Perancis.
Barangkali kau menyesalkan pandanganku yang pesimistis.
Akupun mengerti keberatanmu. Asal saja kau tidak lupa: sekian tahun merdeka ini belum lagi bicara apa-apa bagi mereka yang tewas dalam babak pertama revolusi kita. Kalau Anatole France bicara tentang iblis-iblis yang haus akan darah di masa pemerintahan pergulingan itu, aku bisa juga bicara tentang iblis-¬iblis yang haus akan kurban, akan kaum invalid peng¬hidupan dan kehidupan. Dan bila kurban-kurban dan kaum invalid penghidupan dan kehidupan ini merasa tak pernah dirugikan, itulah tanda yang tepat, bahwa iblis itu telah lakukan apa yang dinamai zakelijkheid dengan pintarnya. Dan bila iblis-iblis ini tetap apa yang biasa dinamai bajingan.
Ini bukanlah yang kita kehendaki dengan zakelijkheid!
Ini bukanlah yang kita kehendaki dengan kehidupan kesarjanaan! kepriayian dan perdagangan!
Sarjana adalah kompas kita, ke mana kita harus pergi mencari pegangan dalam lalulintas kebendaan di kekinian dan dimasa-masa mendatang. Sarjanamu, sarjanaku, wartawanmu, wartawanku, politisimu, politisiku, melihat adanya kesumbangan, dan: titik, stop. Juga seperti turis di dalam gelanggang kehidup¬annya sendiri.
Barangkali, engkaupun akan menuduh mengapa aku tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu, bahwa engkau tidak melupakan syarat ini: ke¬kuasaan. Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang, tetapi tidak tiap orang tahu caranya men¬dapatkan dan menelannya. Semacam kucingmu sen¬diri. Sekalipun sejak lahir kauberi nasi tok, sekali waktu bila ditemukannya daging akan dilahapnya juga. Jadi kau sekarang tahu segi-segi gelap dari ibukota kita ini. Segi-segi yang terang aku tak tahu sama sekali, karena memang hal itu belum lagi diwahyukan kepada¬ku, baik melalui inderaku yang lima-limanya ataupun yang keenam. Tetapi aku nasihatkan kepadamu, dalam masa kita ini, janganlah tiap hal kauanggap mengan¬dung kebenaran 100%, dengan menaksir duapuluh persen pun kau kadang-kadang dihembalang kekece¬waan. Juga demikian halnya dengan uraianku ini.
Aku tahu, engkau seorang patriot dalam maksud dan jiwamu, karena engkau orang daerah yang jauh dari kegalauan kota besar, kumpulan besar dusun ini. Eng¬kau akan berjasa bila bisa membendung tiap orang yang hendak melahirkan diri dari daerahnya hendak memadatkan Jakarta. Tinggallah di daerahmu. Buat¬lah usaha agar tempatmu mempunyai sekolah mene¬ngah atas sebanyak mungkin. Dan buatlah tiap sekolah menengah atas itu menjadi bunga bangsamu di ke¬mudian hari: jadi sumber kegiatan sosial, sumber ke¬sadaran politik secara ilmu, sumber kegiatan pencip¬taan dan latihan kerja. Pernah aku beri ceramah di kota kelahiranku dua tahun yang lalu: mobilisasilkan tiap murid ini untuk berbakti pada masyarakatnya, untuk belajar berbakti, untuk membelokkannya daripada intelektualisme yang hanya mengetahui tanpa kecakapan mempergunakan pengetahuannya. Apa ilmu pasti yang mereka terima itu bagi kehidupannya di kemudian hari bila tidak berguna ?
Jangan kausangka, aku hendak mendiktekan kema¬uanku sendiri. Aku kira aku telah cukup tua untuk menyatakan semua ini kepadamu—engkau yang ku¬harapkan jadi pahlawan pembangun daerahmu. Juga engkau ada merendahkan petani, karena engkau lahir dari golongan priyaji—penjajah petani sepanjang sejarah penjajahan: Jepang, Belanda, Inggris, Mataram, Majapahit, Sriwijaya, Mataram dan kera¬jaan-kerajaan perompak kecil yang tidak mempunyai tempat khusus di dalam sejarah.
Kawan, sebenarnya revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa yang homogen, bangsa yang bisa menyalurkan kekuasaan itu sehingga menjadi tenaga pencipta raksasa, dan bukan menyerbit-nyerbit¬nya dan melahapnya sehingga habis sampai pada kita, pada rakyat yang kecil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas yang benar-benar pada tempatnya hanya sedikit, dan suaranya biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menyadari gentingnya situasi tanah ¬airnya dalam lalulintas sejarah dunia !
Kita mesti kerja.
Tetapi apa yang mesti kita kerjakan, bila mereka yang kerja tak mendapat penghargaan dan hasil seba¬gaimana mesti ia terima ?
Aku kira takkan habis-habisnya ngomong tentang Jakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknya aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Jakarta untuk menambah jumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau jadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana yang lebih penting, kemer¬dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme secara sadar dianggap juga se¬bagai kejahatan atau tidak! Setidak-tidaknya aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanya kau melancong ke ibukota untuk men¬contoh kefatalan di sini.
Kawan, sekianlah.
Djakarta, 17-XII-1955.
Dikaitkatakan dengan Pramoedya Ananta Toer
*Ejaan cerpen ini telah saya sesuaikan dengan ejaan modern kini. Untuk versi asli silahkan googling sendiri... :D (maaf bila ada yang kurang berkenan atas perubahan ejaan yang saya lakukan)Salam...
Cherry Boys Club
Kamis, 10 Februari 2011
Senin, 25 Oktober 2010
cerita Inspiratif
Dikutip dari sebuah buku berjudul ‘Setengah Isi Setengah Kosong’ karangan Parlindungan Marpaung.
selamat Meresapi.. :)
---
MUKJIZAT 1 DOLLAR 11 SEN
Sally adalah anak pertama dari 2 bersaudara yang masih berusia 8 tahun. Belum lama ini dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa adiknya, George, sakit dan harus dioperasi. Orang tuanya yang berpenghasilan pas-pasan tidak memiliki biaya untuk operasi yang sangat mahal. Jaminan asurani kesehatan pun tidak bisa dicairkan karena sudah lama mereka tidak bisa membayar preminya.
“Hanya doa dan mukjizat yang dapat menyelamatkan adikmu!” seru sang Ayah kepada Sally.
“Mukjizat? Apa itu?” tanya Sally dalam hati.
Sesaat kemudian Sally masuk ke dalam kamar dan berdoa untuk mukjizat yang dia harapkan, yakni kesembuhan adiknya. Tak lama setelah itu, Sally keluar kamar dan menemui adiknya. Dia ingin tahu apakah dengan doanya tadi George sudah sembuh atau belum? Ternyata adiknya belum juga sembuh. Lalu ia kembali ke kamar dan mengambil celengannya. Celengan itu lalu ia pecahkan sehingga uang logam didalamnya berhamburan. Satu persatu uang itu ia pungut. Ternyata totalnya adalah 1 dollar 11 sen.
Berbekal uang itu, Sally kemudian pamit pada orang tuanya untuk membeli obat di apotek seberang buat adiknya. Dengan haru, ibunya melepas Sally membeli obat meski ia tahu uang Sally tidak akan cukup menebus obat adiknya.
Sesampainya di apotek, Sally tidak terlalu ditanggapi oleh petugas apotek. Mungkin karena ia masih terlalu kecil untuk berbelanja. Berbagai cara dilakukan Sally kecil untuk menarik perhatian apoteker, namun tak juga berhasil. Sally tidak kehabisan ide. Dengan sedikit terpaksa ia mengetuk-ngetuk etalase dengan uang logamnya hingga terdengar agak bising. Akibatnya dengan berang seorang petugas datang menghampiri Sally dan bertanya, “Mau apa kamu gadis kecil?”
“Aku mau membeli mukjizat untuk kesembuhan adikku yang sedang sakit!” Jawab Sally mantap sambil menunjukkan uang receh berjumlah 1 dollar 11 sen.
“Maaf gadis kecil, disini kami tidak menjual mukjizat. Kami hanya menjual obat-obatan. Silahkan kembali kepada orang tuamu minta uang tambahan agar dapat membeli obat yang kamu maksud!” Ujar petugas dengan nada kesal.
“Bu, tolonglah. Kata ayah, hanya mukjizat yang dapat menyembuhkan adikku. Mungkin ibu bisa menolong aku!” pinta Sally.
Belum sempat petugas itu menjawab, tiba-tiba seorang pria yang mendengar ucapan Sally menghampirinya. “Siapa namamu, Nak? Memangnya mukjizat seperti apa yang dibutuhkan adikmu?” tanya pria tersebut.
Sally kemudian menceritakan perihal dirinya serta keadaan yang ia alami saat ini. Sementara itu, pria tadi dengan sabar mendengarkan cerita Sally.
“Adikku, George, sudah lama sakit dan harus dioperasi. Tapi orang tuaku tidak punya uang untuk membayar biaya operasinya. Kata ayah, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkan adikku. Untuk itulah aku kemari, siapa tahu apotek ini menjual mukjizat yang ayah maksud!” tutur Sally. Makin lama, suara gadis kecil itu makin parau. Bahkan ketika menceritakan kondisi adiknya, Sally mulai menangis. Cerita Sally tampaknya membuat orang tersebut tersentuh.
“Sudahlah, Nak. Jangan menangis! Sekarang, bisakah kamu pertemukan saya dengan kedua orang tuamu? Kalau bisa, saya ingin melihat kondisi adikmu yang sedang sakit itu.” Ungkap pria itu sambil memeluk Sally.
Ternyata pria itu adalah dokter spesialis bedah terkenal, Carlton Armstrong. Singkat cerita, George akhirnya berhasil dioperasi dengan lancar sehingga kondisinya pulih seperti semula. Operasi itu dilakukan sendiri oleh dr.Amstrong. Tidak hanya itu, dr.Amstrong pun membebaskan semua biaya operasi tersebut.
“Operasi itu pasti sangat mahal. Kalau kamu tidak punya keyakinan dan cinta kasih kepada adikmu, ibu tidak bisa membayangkan berapa harga yang harus dibayarkan untuk itu semua.” puji ibu kepada Sally sambil memeluknya.
“Bu, harga operasi itu 1 dollar 11 sen....” jawab Sally polos dengan penuh sukacita.
selamat Meresapi.. :)
---
MUKJIZAT 1 DOLLAR 11 SEN
Sally adalah anak pertama dari 2 bersaudara yang masih berusia 8 tahun. Belum lama ini dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa adiknya, George, sakit dan harus dioperasi. Orang tuanya yang berpenghasilan pas-pasan tidak memiliki biaya untuk operasi yang sangat mahal. Jaminan asurani kesehatan pun tidak bisa dicairkan karena sudah lama mereka tidak bisa membayar preminya.
“Hanya doa dan mukjizat yang dapat menyelamatkan adikmu!” seru sang Ayah kepada Sally.
“Mukjizat? Apa itu?” tanya Sally dalam hati.
Sesaat kemudian Sally masuk ke dalam kamar dan berdoa untuk mukjizat yang dia harapkan, yakni kesembuhan adiknya. Tak lama setelah itu, Sally keluar kamar dan menemui adiknya. Dia ingin tahu apakah dengan doanya tadi George sudah sembuh atau belum? Ternyata adiknya belum juga sembuh. Lalu ia kembali ke kamar dan mengambil celengannya. Celengan itu lalu ia pecahkan sehingga uang logam didalamnya berhamburan. Satu persatu uang itu ia pungut. Ternyata totalnya adalah 1 dollar 11 sen.
Berbekal uang itu, Sally kemudian pamit pada orang tuanya untuk membeli obat di apotek seberang buat adiknya. Dengan haru, ibunya melepas Sally membeli obat meski ia tahu uang Sally tidak akan cukup menebus obat adiknya.
Sesampainya di apotek, Sally tidak terlalu ditanggapi oleh petugas apotek. Mungkin karena ia masih terlalu kecil untuk berbelanja. Berbagai cara dilakukan Sally kecil untuk menarik perhatian apoteker, namun tak juga berhasil. Sally tidak kehabisan ide. Dengan sedikit terpaksa ia mengetuk-ngetuk etalase dengan uang logamnya hingga terdengar agak bising. Akibatnya dengan berang seorang petugas datang menghampiri Sally dan bertanya, “Mau apa kamu gadis kecil?”
“Aku mau membeli mukjizat untuk kesembuhan adikku yang sedang sakit!” Jawab Sally mantap sambil menunjukkan uang receh berjumlah 1 dollar 11 sen.
“Maaf gadis kecil, disini kami tidak menjual mukjizat. Kami hanya menjual obat-obatan. Silahkan kembali kepada orang tuamu minta uang tambahan agar dapat membeli obat yang kamu maksud!” Ujar petugas dengan nada kesal.
“Bu, tolonglah. Kata ayah, hanya mukjizat yang dapat menyembuhkan adikku. Mungkin ibu bisa menolong aku!” pinta Sally.
Belum sempat petugas itu menjawab, tiba-tiba seorang pria yang mendengar ucapan Sally menghampirinya. “Siapa namamu, Nak? Memangnya mukjizat seperti apa yang dibutuhkan adikmu?” tanya pria tersebut.
Sally kemudian menceritakan perihal dirinya serta keadaan yang ia alami saat ini. Sementara itu, pria tadi dengan sabar mendengarkan cerita Sally.
“Adikku, George, sudah lama sakit dan harus dioperasi. Tapi orang tuaku tidak punya uang untuk membayar biaya operasinya. Kata ayah, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkan adikku. Untuk itulah aku kemari, siapa tahu apotek ini menjual mukjizat yang ayah maksud!” tutur Sally. Makin lama, suara gadis kecil itu makin parau. Bahkan ketika menceritakan kondisi adiknya, Sally mulai menangis. Cerita Sally tampaknya membuat orang tersebut tersentuh.
“Sudahlah, Nak. Jangan menangis! Sekarang, bisakah kamu pertemukan saya dengan kedua orang tuamu? Kalau bisa, saya ingin melihat kondisi adikmu yang sedang sakit itu.” Ungkap pria itu sambil memeluk Sally.
Ternyata pria itu adalah dokter spesialis bedah terkenal, Carlton Armstrong. Singkat cerita, George akhirnya berhasil dioperasi dengan lancar sehingga kondisinya pulih seperti semula. Operasi itu dilakukan sendiri oleh dr.Amstrong. Tidak hanya itu, dr.Amstrong pun membebaskan semua biaya operasi tersebut.
“Operasi itu pasti sangat mahal. Kalau kamu tidak punya keyakinan dan cinta kasih kepada adikmu, ibu tidak bisa membayangkan berapa harga yang harus dibayarkan untuk itu semua.” puji ibu kepada Sally sambil memeluknya.
“Bu, harga operasi itu 1 dollar 11 sen....” jawab Sally polos dengan penuh sukacita.
Keisengan kembali melanda
PDKT Ala kependudukan Jepang yang masih kepake sampai kini...
khegek... lama bangat ini
lets... go...
-
* "Kamu sukanya cowok kaya gimana sih?" #PDKT
* "Eh, misalnya aja nih.. ada cowok temen deket kamu, tiba2 bilang suka sama kamu, kamu jawabnya apa?" #PDKT
* "Hai ini nomor Rika ya, kenalan dong.. aku tau nomor kamu dari pacarnya adik ayah temen mantannya kamu." #PDKT
* "Kamu suka lagu apa aja? Aku baru belajar cara ngeburn CD kompilasi nih.." #PDKT
* "Aku cuma mau ngasih tau, PIN ATM ku tuh ulangtahun kamu lho.."#PDKT
* "Kamu senyumnya mirip mamaku deh, hangat keibuan.. #PDKT
* "Tulisan kamu bagus deh. Aku mau tiru huruf 'g' dan 'y' nya ya.."#PDKT
* "Aku cuma mau kamu tahu, kalau kamu butuh teman cerita, aku selalu ada di sini.." #PDKT
* "Halo, Rika dimana loe? Lho, salah sambung? Jadi ini siapa, kenalan deh
skalian.." #PDKT
* "Aku ada mau ngomong sesuatu nih, tapi kamu jangan kaget yah.."#PDKT
* "Eh, pinjem penggaris dong.." #PDKT #jamanSMA
* ngelipet ujung halaman diary-nya dan nulis "Jangan dibuka!"#PDKT #jamanSMA
* nulis singkatan lucu huruf-huruf namanya di diary.. #PDKT #jamanSMA
* "Aku isiin diary kamu yah.." #PDKT #jamanSMA
* "Tip-ex kamu dah kentel nih, sini aku cariin thinner.." #PDKT #jamanSMA
* "Aku kebanyakan beli gorengannya, kamu mau?" #PDKT #jamanSMA
* "Belajar bareng yuk.." #PDKT #jamanSMA
* "Eh besok dateng pagian yah, kita kan giliran tugas piket kelas.."#PDKT #jamanSMA
* "Kamu keliatannya pucat, aku anterin ke ruang UKS yah?" #PDKT #jamanSMA
* "Eh, bentuknya manis kok, cuman agak anyir yah.." #PDKT #edisiGynecologist
* "Eh, papamu waktu muda dulu mirip aku yah? Bahkan hobi kami mirip.." #PDKT #edisiFreudian
* "Bibir kamu unik klasik deh, seperti punden berundak.." #PDKT #edisiarkeologi
* "Waktu kita tidak lama lagi, cantik.. kita harus lekas bercinta."#PDKT #edisikiamat
* "Hai kecantikan duniawi yang tidak kekal.." #PDKT #edisibiksu
* "Eeeeh, rosario kita warnanya sama.." #PDKT #edisimudamudikatolik
* "Sikiralabalabalabalabalaba..." #PDKT #edisiTimProfetik
* "Eh, kemarin aku dinubuatin tentang pasangan yang mirip kamu lho.." #PDKT #edisiremajagereja
* "Eh, kamu anak binaannya Ko Aping, komsel Jelambar kan?"#PDKT #edisiremajagereja
* "Hai, udah saat teduh belum?" #PDKT #edisipekerjagereja
* "Eh kita pake buku renungan harian yang sama yah.." #PDKT #edisiremajagereja
* "Eh, nanti malam kita ketemu di udara ya.." #PDKT #edisiremajagereja #rantaidoa
* "Merdu suaramu mematahkan semua kutuk sakitpenyakit, kutuk miskin, kutuk mejaoperasi, kutuk kerusuhan.." #PDKT #edisiTiberias
* "Sewaktu aku dua kali ke surga, aku menyempatkan diri melihat rumah kita berdua di sana.." #PDKT #edisiTiberias
* "Hai, kecantikanmu menyayat lenganku.." #PDKT #edisiemo
* "Bantuin aku ngetes kemampuan video handphone baru yuk.."#PDKT #edisiAriel
* "Merdeka atoe mati, abang pasti kembali.." #PDKT #edisimistikperjoeangan
* "Anita, my father wants to meet you.." #PDKT #edisiGodfather
* "Eh mbak enak deh mijitnya.." #PDKT #edisisaloncucirambut
* "Kiri.. kiri.. kiri.. kiri.. oooop! Sip neng, jago deh nyetirnya." #PDKT #edisiLadiesParking
* *menatap dari jauh, sambil kinclong bergemilangan* #PDKT #edisiEdwardCullen
* "Yah kalau kamu masih sayang sama dia, ya gapapa kok.. terusin jalan aja." #PDKT #edisipilu #setiamenunggu
* "Puterin lagu Jose Mari Chan yang Beautiful Girl dong, titip salam kenal untuk Mei-Mei di Jelambar.." #PDKT #edisiradio
* "Kamu yang warnain, nanti aku yang kuasin.." #PDKT #edisiLunaAquarel
* *buzz* #PDKT #gasabar #edisiYM
* "Asl pls.." #PDKT #edisiMIRC
* muji-muji tapi nomention.. #PDKT #edisitwitter
* "Eh aku follow kamu yah, folbek dong.." #PDKT #edisitwitter
* *like* #PDKT #edisifacebook
* *poke* #PDKT #edisifacebook
* *wink* #PDKT #edisifriendster
* "Lho, aku juga suka musik Jazz, kok kita banyak banget miripnya?!"#dusta #PDKT
* "Kamu lagi pengen makan apa?" #PDKT #edisikuliner
* "Sul sul!" #PDKT #edisiTheSims
* "Eneng ntar pulangnya mo dijemput lagi ga?" #PDKT #edisitukangojek
* "Eh ke Ancol yuk.." #PDKT #edisilawas
* "Tapi kamu sadar 'kan cowok kamu itu emg ga bakalan berubah?"#PDKT #strateginikung #edisiBlackCampaign
* "Kamu emangnya ga capek ya berantem terus sama pacar kamu yang skarang?" #PDKT #strateginikung
* "Aku cuma mau kamu tahu, aku senang menghabiskan waktu dengan anak-anakmu.." #PDKT #singlemom
* "Halo tante, makin cantik seger aja keliatannya.. saingan sama anaknya yah." #PDKT #anakdanmamanyasekaligus
* "Eh pinjem catokannya ya cyiiiiin.." #PDKT #sesamabancisalon
* "Eh, nanti kamu ke prom sama siapa?" #PDKT #highschoolnationalplus
* "Knapa rasanya kita kyk udah kenal lama yah, spt ada sesuatu di kehidupan kita yg lampau" #PDKT #edisireinkarnasi
* "Ukhti mau Akhi bawain tikernya ke mushola?" #PDKT #edisiremajamasjid
* "Dik, bolehkah aku membantumu? | Membantu apa, kak? | Membantu membuka hatimu. #PDKT #edisiplayboycapkaleng
* "Hay... gadis... Check in yuk... " #PDKT #ala Keong Racun.....
uda. !!!!
:)
khegek... lama bangat ini
lets... go...
-
* "Kamu sukanya cowok kaya gimana sih?" #PDKT
* "Eh, misalnya aja nih.. ada cowok temen deket kamu, tiba2 bilang suka sama kamu, kamu jawabnya apa?" #PDKT
* "Hai ini nomor Rika ya, kenalan dong.. aku tau nomor kamu dari pacarnya adik ayah temen mantannya kamu." #PDKT
* "Kamu suka lagu apa aja? Aku baru belajar cara ngeburn CD kompilasi nih.." #PDKT
* "Aku cuma mau ngasih tau, PIN ATM ku tuh ulangtahun kamu lho.."#PDKT
* "Kamu senyumnya mirip mamaku deh, hangat keibuan.. #PDKT
* "Tulisan kamu bagus deh. Aku mau tiru huruf 'g' dan 'y' nya ya.."#PDKT
* "Aku cuma mau kamu tahu, kalau kamu butuh teman cerita, aku selalu ada di sini.." #PDKT
* "Halo, Rika dimana loe? Lho, salah sambung? Jadi ini siapa, kenalan deh
skalian.." #PDKT
* "Aku ada mau ngomong sesuatu nih, tapi kamu jangan kaget yah.."#PDKT
* "Eh, pinjem penggaris dong.." #PDKT #jamanSMA
* ngelipet ujung halaman diary-nya dan nulis "Jangan dibuka!"#PDKT #jamanSMA
* nulis singkatan lucu huruf-huruf namanya di diary.. #PDKT #jamanSMA
* "Aku isiin diary kamu yah.." #PDKT #jamanSMA
* "Tip-ex kamu dah kentel nih, sini aku cariin thinner.." #PDKT #jamanSMA
* "Aku kebanyakan beli gorengannya, kamu mau?" #PDKT #jamanSMA
* "Belajar bareng yuk.." #PDKT #jamanSMA
* "Eh besok dateng pagian yah, kita kan giliran tugas piket kelas.."#PDKT #jamanSMA
* "Kamu keliatannya pucat, aku anterin ke ruang UKS yah?" #PDKT #jamanSMA
* "Eh, bentuknya manis kok, cuman agak anyir yah.." #PDKT #edisiGynecologist
* "Eh, papamu waktu muda dulu mirip aku yah? Bahkan hobi kami mirip.." #PDKT #edisiFreudian
* "Bibir kamu unik klasik deh, seperti punden berundak.." #PDKT #edisiarkeologi
* "Waktu kita tidak lama lagi, cantik.. kita harus lekas bercinta."#PDKT #edisikiamat
* "Hai kecantikan duniawi yang tidak kekal.." #PDKT #edisibiksu
* "Eeeeh, rosario kita warnanya sama.." #PDKT #edisimudamudikatolik
* "Sikiralabalabalabalabalaba..." #PDKT #edisiTimProfetik
* "Eh, kemarin aku dinubuatin tentang pasangan yang mirip kamu lho.." #PDKT #edisiremajagereja
* "Eh, kamu anak binaannya Ko Aping, komsel Jelambar kan?"#PDKT #edisiremajagereja
* "Hai, udah saat teduh belum?" #PDKT #edisipekerjagereja
* "Eh kita pake buku renungan harian yang sama yah.." #PDKT #edisiremajagereja
* "Eh, nanti malam kita ketemu di udara ya.." #PDKT #edisiremajagereja #rantaidoa
* "Merdu suaramu mematahkan semua kutuk sakitpenyakit, kutuk miskin, kutuk mejaoperasi, kutuk kerusuhan.." #PDKT #edisiTiberias
* "Sewaktu aku dua kali ke surga, aku menyempatkan diri melihat rumah kita berdua di sana.." #PDKT #edisiTiberias
* "Hai, kecantikanmu menyayat lenganku.." #PDKT #edisiemo
* "Bantuin aku ngetes kemampuan video handphone baru yuk.."#PDKT #edisiAriel
* "Merdeka atoe mati, abang pasti kembali.." #PDKT #edisimistikperjoeangan
* "Anita, my father wants to meet you.." #PDKT #edisiGodfather
* "Eh mbak enak deh mijitnya.." #PDKT #edisisaloncucirambut
* "Kiri.. kiri.. kiri.. kiri.. oooop! Sip neng, jago deh nyetirnya." #PDKT #edisiLadiesParking
* *menatap dari jauh, sambil kinclong bergemilangan* #PDKT #edisiEdwardCullen
* "Yah kalau kamu masih sayang sama dia, ya gapapa kok.. terusin jalan aja." #PDKT #edisipilu #setiamenunggu
* "Puterin lagu Jose Mari Chan yang Beautiful Girl dong, titip salam kenal untuk Mei-Mei di Jelambar.." #PDKT #edisiradio
* "Kamu yang warnain, nanti aku yang kuasin.." #PDKT #edisiLunaAquarel
* *buzz* #PDKT #gasabar #edisiYM
* "Asl pls.." #PDKT #edisiMIRC
* muji-muji tapi nomention.. #PDKT #edisitwitter
* "Eh aku follow kamu yah, folbek dong.." #PDKT #edisitwitter
* *like* #PDKT #edisifacebook
* *poke* #PDKT #edisifacebook
* *wink* #PDKT #edisifriendster
* "Lho, aku juga suka musik Jazz, kok kita banyak banget miripnya?!"#dusta #PDKT
* "Kamu lagi pengen makan apa?" #PDKT #edisikuliner
* "Sul sul!" #PDKT #edisiTheSims
* "Eneng ntar pulangnya mo dijemput lagi ga?" #PDKT #edisitukangojek
* "Eh ke Ancol yuk.." #PDKT #edisilawas
* "Tapi kamu sadar 'kan cowok kamu itu emg ga bakalan berubah?"#PDKT #strateginikung #edisiBlackCampaign
* "Kamu emangnya ga capek ya berantem terus sama pacar kamu yang skarang?" #PDKT #strateginikung
* "Aku cuma mau kamu tahu, aku senang menghabiskan waktu dengan anak-anakmu.." #PDKT #singlemom
* "Halo tante, makin cantik seger aja keliatannya.. saingan sama anaknya yah." #PDKT #anakdanmamanyasekaligus
* "Eh pinjem catokannya ya cyiiiiin.." #PDKT #sesamabancisalon
* "Eh, nanti kamu ke prom sama siapa?" #PDKT #highschoolnationalplus
* "Knapa rasanya kita kyk udah kenal lama yah, spt ada sesuatu di kehidupan kita yg lampau" #PDKT #edisireinkarnasi
* "Ukhti mau Akhi bawain tikernya ke mushola?" #PDKT #edisiremajamasjid
* "Dik, bolehkah aku membantumu? | Membantu apa, kak? | Membantu membuka hatimu. #PDKT #edisiplayboycapkaleng
* "Hay... gadis... Check in yuk... " #PDKT #ala Keong Racun.....
uda. !!!!
:)
Senin, 22 Maret 2010
Lantas Muba Gelar Pertemuan dengan CBC sekayu
Sekayu- CBC terus berkibar...
kemarin tanggal 21 maret 2010, Satlantas Muba melalui perwakilan nya IPDA khoiruna menggelar pertemuan dengan anggota club Motoyy Cherry Boys Club (CBC) dan Community Cewe' Metik (C2M), bertempat di Markas besar CBC yang terletak disamping hotel Ranggonang Sekayu. Tujuan dari pertemuan ini adalah selain untuk mensosialisasikan UU no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas, juga bertujuan untuk menjalin kerja sama antara CBC+C2M dan Satlantas Muba dalam mengadakan kegiatan bakti sosial yang rencananya akan diadakan dalam beberapa waktu dekat ini.
CBC...
Jauh dari benak banyak orang yang selalu menilai buruk suatu komunitas Motoyy...CBC hadir membawa perdamaian...(telek beE lambang qMi ntu...peVcE...)
Ke Depan CBC akan terus berbenah untuk menjadi Lebih baik dan lebih baik lagi...
Satu hal yang pasti..., Bagi komunitas lain yang merasa Iri ma CBC dan C2M...Tidak masalah, kami Anggap itu sebuah sanjungan karena merupakan suatu hal yang wajar bila junior Iri ma Senior....
n konon katanya kemarin...da yang bilang Bahwa C2M ntu cma bisa nya ngikut CBC doank...
It's key...ka"k jelas keE...C2M ntu adeg ny CBC, jdi wajarlah kan on3 mon adeg ngIkut kyung...
Dag kde adeg nag suRuh Bjalan dwek sedangke kyung Nye kag ade...???
Jadi kesimpulannye ntu., jangan galak ngluarke pendapat dag be'Poros & Jangan galak pulek baseng "Tetah" agek Tabuang......
Kami (CBC) mbentuk club...awalnye bukan bwat nyri popularitas...walaupun akherny skarang kami memang jdi populer...
Bkan pulek pengen ditiru walaupun sekarang banyak yang niru...
Sbenoknye...mak ikag ek.., pas tamat bdag kag bnyak tpisah..., jdi spaye Silahturrahmi tetap jalan..budag kag galak b'kumpul di bawah batang buah Seri tempat Rudi Cysara(ketua CBC Sekarang) Sampeng hotel Ranggonang Sekayu. nha dari situlah akhernya...dy Hamil...sampai kemudian lahirlah CBC.....
Sekian info dari ka"k....
Salam CBC bwat smua...
Terus berjaya CBC dan C2M Sekayu........
kemarin tanggal 21 maret 2010, Satlantas Muba melalui perwakilan nya IPDA khoiruna menggelar pertemuan dengan anggota club Motoyy Cherry Boys Club (CBC) dan Community Cewe' Metik (C2M), bertempat di Markas besar CBC yang terletak disamping hotel Ranggonang Sekayu. Tujuan dari pertemuan ini adalah selain untuk mensosialisasikan UU no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas, juga bertujuan untuk menjalin kerja sama antara CBC+C2M dan Satlantas Muba dalam mengadakan kegiatan bakti sosial yang rencananya akan diadakan dalam beberapa waktu dekat ini.
CBC...
Jauh dari benak banyak orang yang selalu menilai buruk suatu komunitas Motoyy...CBC hadir membawa perdamaian...(telek beE lambang qMi ntu...peVcE...)
Ke Depan CBC akan terus berbenah untuk menjadi Lebih baik dan lebih baik lagi...
Satu hal yang pasti..., Bagi komunitas lain yang merasa Iri ma CBC dan C2M...Tidak masalah, kami Anggap itu sebuah sanjungan karena merupakan suatu hal yang wajar bila junior Iri ma Senior....
n konon katanya kemarin...da yang bilang Bahwa C2M ntu cma bisa nya ngikut CBC doank...
It's key...ka"k jelas keE...C2M ntu adeg ny CBC, jdi wajarlah kan on3 mon adeg ngIkut kyung...
Dag kde adeg nag suRuh Bjalan dwek sedangke kyung Nye kag ade...???
Jadi kesimpulannye ntu., jangan galak ngluarke pendapat dag be'Poros & Jangan galak pulek baseng "Tetah" agek Tabuang......
Kami (CBC) mbentuk club...awalnye bukan bwat nyri popularitas...walaupun akherny skarang kami memang jdi populer...
Bkan pulek pengen ditiru walaupun sekarang banyak yang niru...
Sbenoknye...mak ikag ek.., pas tamat bdag kag bnyak tpisah..., jdi spaye Silahturrahmi tetap jalan..budag kag galak b'kumpul di bawah batang buah Seri tempat Rudi Cysara(ketua CBC Sekarang) Sampeng hotel Ranggonang Sekayu. nha dari situlah akhernya...dy Hamil...sampai kemudian lahirlah CBC.....
Sekian info dari ka"k....
Salam CBC bwat smua...
Terus berjaya CBC dan C2M Sekayu........
Jumat, 19 Maret 2010
Kibarkan bendera CBC dI sEkAYU...., KotA KIte tercintq
Semboyan CBC.....
Narkoba no....!!!
Smoking Yes...
Alkhohol no...!!!
Miyuzhikk Yes...!!!
Jauh dari persepsi kebanyakan orang-orang yang cenderung menilai buruk suatu Gank Motoyy..
CBC hadir dengan kedamaian, kebahagian dan kasih sayang bwat semua..
Terus Berkibar Bendera CBC.....Ku.
Narkoba no....!!!
Smoking Yes...
Alkhohol no...!!!
Miyuzhikk Yes...!!!
Jauh dari persepsi kebanyakan orang-orang yang cenderung menilai buruk suatu Gank Motoyy..
CBC hadir dengan kedamaian, kebahagian dan kasih sayang bwat semua..
Terus Berkibar Bendera CBC.....Ku.
Sabtu, 13 Maret 2010
CBC
Hari minggu, tgl 21 februari 2010...anag-anag 'BC knjungi panti asuhan hari kurnia ulak paceh.
Tidak terlalu banyak memang apa yang kmi brikan kepada mereka, namun bukankah sesungguhnya sesuatu yang besar itu memang dmlai dri hal yng kcil...?
Bkan mncri pmrih, tpi kami hnya ingin bljar agar kmi bsa mempnyai jwa sosial dan agar kmi jga bsa mnjdi insan yng lebih brmanfaat bwt sesama...
CBC Cinta dmai...Cinta tata tertib lalulintas...Cinta Indonesia, cinta Muba, cinta semua teman, cinta guru-adek-kakak apalagi ortu...
Hiduplah dengan "Sabay-Sabay", dag usah mdah mrah..krna hdup hrus dinkmati..
Sntay on3..santay...!!! 2010 hrus santay..
Cherry Boys Club...
Salam Doni_on3 CBC....
Tidak terlalu banyak memang apa yang kmi brikan kepada mereka, namun bukankah sesungguhnya sesuatu yang besar itu memang dmlai dri hal yng kcil...?
Bkan mncri pmrih, tpi kami hnya ingin bljar agar kmi bsa mempnyai jwa sosial dan agar kmi jga bsa mnjdi insan yng lebih brmanfaat bwt sesama...
CBC Cinta dmai...Cinta tata tertib lalulintas...Cinta Indonesia, cinta Muba, cinta semua teman, cinta guru-adek-kakak apalagi ortu...
Hiduplah dengan "Sabay-Sabay", dag usah mdah mrah..krna hdup hrus dinkmati..
Sntay on3..santay...!!! 2010 hrus santay..
Cherry Boys Club...
Salam Doni_on3 CBC....
Jumat, 05 Februari 2010
Cherry boys Club
CBC(Cherry Boys Club)
Dag Usahlah nag dipikir kE igek name' artinye....
yang Jlas CBC ntu Kelompok budag-budag baik Anak sekayu Asli on3.....
Nameg gawenye.....? Wek on3,,,,Standar-standar beE...., kumpul-kumpul, Makan-makan, Maen Gtar, ndengo lagu, jalan-jalan, maen catur, maen Remi, maen PS, maen pingpong,,,, biaso beE lah......nnnnn Terakher, so pasti "Tampel".
CBC, mungkin jo wank kami kag rada Nakal, V yang jlas CBC ntu dag kurang ajar.....
Bdag CBC dilarang balap( kebut-kebutan) makai baju CBC...coz ad psal-psalnye lah, bnyak psalnye ntu, sgan q nulesnye.
CBC, komunitas resmi diSekayu. Waktu acara Touring dalam kegiatan lantas Muba,CBC dapat sertifikat Dari Kapolres Muba (K.Rahmadi,S.H.)
DEM JADILAH DUlu..............
CBC
Cowok-cowok Bawah Cherry....he.......he.........
Dag Usahlah nag dipikir kE igek name' artinye....
yang Jlas CBC ntu Kelompok budag-budag baik Anak sekayu Asli on3.....
Nameg gawenye.....? Wek on3,,,,Standar-standar beE...., kumpul-kumpul, Makan-makan, Maen Gtar, ndengo lagu, jalan-jalan, maen catur, maen Remi, maen PS, maen pingpong,,,, biaso beE lah......nnnnn Terakher, so pasti "Tampel".
CBC, mungkin jo wank kami kag rada Nakal, V yang jlas CBC ntu dag kurang ajar.....
Bdag CBC dilarang balap( kebut-kebutan) makai baju CBC...coz ad psal-psalnye lah, bnyak psalnye ntu, sgan q nulesnye.
CBC, komunitas resmi diSekayu. Waktu acara Touring dalam kegiatan lantas Muba,CBC dapat sertifikat Dari Kapolres Muba (K.Rahmadi,S.H.)
DEM JADILAH DUlu..............
CBC
Cowok-cowok Bawah Cherry....he.......he.........
Langganan:
Komentar (Atom)